Pengasuh Setan Neraka Di Rumah Tua
Sampai ke rumahku suasana gelap sudah mulai terlihat, kami menemukan tubuh kedua orangtuaku tergeletak di ruang tamu.
"Ayah! Ibu!" aku sudah hampir berlari untuk mendapati tubuh keduanya, ketika lagi-lagi cengkeraman yang kuat Mbah Mijan bersarang di bahuku.
"Tunggu! Itu bukan mereka, Nduk! Mundurlah di belakang tubuhku, akan kutunjukkan kepadamu!"
Akupun beringsut ke belakang punggung lelaki sepuh itu, melihatnya menggosokkan telapak tangannya. Lalu dengan posisi kuda-kuda pencak silat, dia melontarkan satu energi yang berupa cahaya biru ke sosok yang tergeletak itu. Dan tubuh keduanya pun berubah menjadi gumpalan asap, lalu menghilang di kegelapan.
"Kemana tubuh orangtuaku, Mbah!" teriakku mengiringi menghilangya asap pekat itu.
"Mereka bukan orangtuamu, Nduk. Jasad mereka sedang disembunyikan di suatu tempat di rumah ini, tetapi roh mereka ditawan di negara Jin Palon!"
Aku sangat terkejut dengan penjelasan Mbah Mijan, tetapi sebelum aku bertanya lebih lanjut, orang tua itu sudah terlebih dulu berteriak.
"Nyalakan penerangan!"
Entah kepada siapa perintah ditujukan, karena tiba-tiba lampu gantung di ruangan itu sudah menyala. Juga beberapa lampu tempel di dinding ruangan, semuanya menyala dengan api berkobar-kobar.
Ketika pandanganku mulai terbiasa dengan cahaya ruangan itu, mulai terlihat satu persatu sosok di sana. Jin Samin berdiri di pojok ruangan, bersama dengan seorang Jin Perempuan yang sangat cantik. Dan dua lagi, tampak berjaga di pintu masuk dan lorong menuju dapur.
"Ruangan ini sudah kupagari dengan Benteng Wojo¹. Jin Palon dan anak buahnya takkan sanggup menembusnya, apalagi Imam Thohari juga melapisinya dengan sebuah amalan." Kata Jin Samin kepada Mbah Mijan.
"Baguslah, kita akan menyusun rencana dari sini. Silakan, Nak." Orang tua itu mengarahkan pandangannya kepada Imam Thohari, dari gerak-geriknya dia seperti sudah terbiasa berhadaoan dengan situasi seperti ini.
"Baiklah, Mbah. Langkah pertama, kita akan menembus dimensi mereka dengan semua pasukan yang ada."
'Pasukan? Hanya tiga orang manusia dan 21 jin, mengapa Kang Imam menyebutnya pasukan?' bathinku.
Ternyata Mbah Mijan mengetahui apa yang sedang kupikirkan, dia menoleh ke arahku.
"Kamu jangan kawatir, Nduk. Masing-masing jin yang ada di sini bukan sembarangan, semua bisa menggandakan dirinya menjadi ratusan ribu jin dengan penampilan dan krmampuan yang sama dengan aslinya."
"Iya, Mbah. Maafkan, saya hanya belum mengetahuinya saja."
"Lanjutkan, Mam!"
"Iya, Mbah!" santri tampan itu kembali melanjutkan pemaparannya, setelah mengangguk dan tersenyum padaku, "Kita hanya akan meninggalkan beberapa jin di sini, semua yang mumpuni untuk menjaga jasad-jasad kami selama meraga sukma²."
"Bagaimana dengan Amira?" tanya Jin Samin.
"Dia akan ikut dengan kita menerobos pintu gerbang kerajaan mereka, karena hanya dia yang akan bisa melakukannya," jawab Kang Imam.
"Benar, hanya gadis perawan suci yang memiliki bakat melihat keberadaan merekalah kuncinya." Mbah Mijan menambahi keterangan sebelumnya, tetapi justru malah membuatku tidak mengerti.
"Kenapa aku, Mbah? Dan bagaimana caranya bisa membuka pintu gerbang kerajaan mereka!?"
"Tenanglah, Nduk. Petunjuk akan ada di sana, bagaimana caranya kamu akan membukanya."
"Iya, Mbah."
"Lanjutkan, Mam!"
"Sebelum datang kemari : aku sudah berpesan kepada salah seorang santri, untuk mengumpulkan seluruh penduduk desa agar datang ke rumah ini tepat jam 12 malam. Mereka akan membantu kita menyucikan rumah ini, dari cengkeraman jahat Jin Palon dan raja mereka Iblis Ajajil."
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, mari segera kita mulai prnyerbuan kita!" seru Mbah Mijan.
Tidak ada yang melontarkan pertanyaan atau pun berkeberatan, aku pun sudah merasa jelas dengan rencana ini.
"Duduk bersilalah di sampingku, Nduk. Kosongkan fikiranmu, pasrah kepada Tuhan Yang Mahaesa. Pejamkan kedua belah matamu, berdoalah memohon keselamatan. Ingat! Apapun yang kamu rasakan, apapun yang membuatmu penasaran, diamkan saja. Jangan sekali-kali membuka matamu, sebelum aku memintanya."
"Iya, Mbah." Meskipun rasa takut mulai mengundang degup jantung berdentang-dentang, aku menguyakan perkataan orang tua itu.
Yang diminta untuk kulakukan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan keseharianku, bermeditasi adalah kebiasaanku setiap hari untuk meredam penampakan mata bathinku. Hanya berbeda sedikit, karena pada saat ini niatku bermeditasi adalah untuk pergi berperang.
Proses meditasi berjalan lancar, aku mulai merasakan gangguan-gangguan pada panca inderaku. Bebauan yang berubah-ubah, dari harum, sedap, amis, bahkan bau bangkai dan bau-bau menyengat lainnya. Lalu kudengar suara petir yang menggelegar, tetabuhan, derit-derit benda berat yang diseret, jeritan-jeritan, ratapan tangis, suara tawa, silih berganti terdengar di telingaku.
"Amira! Tolong kami, Nak!"
"Amira! Tolong kami, Sayang!"
Suara ayah ibuku terdengar jelas, seperti mereka sedang duduk berhadapan denganku.
"Jangan buka matamu, Amira!" sayup kudengar teriakan dari Mbah Mijan, bersamaan dengan terbukannya kedua kelopak mataku.
"Dhuar!"
Sebuah ledakan dasyat bagai menghantam tubuh, untuk sesaat aku hanya merasa berputar-putar di angkasa. Kemudian tubuhku bagai terlempar ke tanah kering yang berlendir, hingga saat membuka mata.
Aku merasa terduduk di atas sesuatu yang keras, tetapi tidak dapat melihatnya karena diliputi kabut tebal.
"Mbah, Mijan!" teriakku memanggil orangtua itu.
"Kang Imam!"
"Jin Samin!"
Tidak tampak sesuatu pun, kabut melingkupi apapun yang kulihat di tempat itu. Sebuah dataran asing yang bahkan belum pernah kujumpai selama hidupku, semua serba temaram antara jingga dan hitam. Udara yang tercium pun berganti-ganti, kadang segar, lalu berubah anyir, berganti segar lagi lalu amis, begitu yang kurasakan.
Entah dari mana asalnya, tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dari golongan jin di hadapanku. Dari gaya pakaian yang dikenakannya, aku yakin dia bukanlah golongan dari Jin Samin dan teman-temannya.
"Berdirilah! Pegang tanganku, kita akan segera meninggalkan tempat ini!" kata sosok cantik jelita itu, sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
"Kamu siapa? Dan kenapa aku harus ikut bersamamu?" tanyaku kebingungan.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya saat ini! Ikutlah denganku, atau kamu lebih ingin ditangkap prajurit Iblis Ajajil?"
Tidak ada yang perlu kudebatkan lagi, karena rasa ykin pada niat baik jin ini. Segera kuraih tangannya, dan bagai kilat dia membawa tubuhku melesat ke angkasa. Menjadi pingsan karenanya.
*****
Kubuka mata karena tiupan udara hangat menerpa tubuhku, perlahan kucoba mengingat apa yang telah terjadi padaku. Meski belum dapat mengingat semuanya, aku masih bisa mengingat pertemuanku dengan jin cantik jelita itu.
"Kau sudah siuman, Amira?" terdengar sebuah suara yang cukup lembut yang menyapa, maka kupalingkan wajah ke arahnya.
"Siapa, Anda?" aku terkejut, karena melihat jin lain yang juga tak kalah cantik jelita di samping tempat tidurku.
"Tenanglah, Amira. Namaku Magenta, yang menemukanmu di hutan tadi adalah Nadenta. Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah agak baik ... eh Nyonya ... Nona ... bagaimana aku memanggil Anda?" terang sekali aku kebingungan memanggilnya, karena penampilannya yang bak puteri raja dalam kisah dongeng mancanegara.
"Panggil aku Bunda Prayangan, aku dari bangsa peri yang menikah dengan bagsa jin. Seorang permaisuri dari sebuah kerajaan jin dimana saat ini kamu berada, dan suamiku Baginda Baldewa yang menjadi rajanya."
"Luar biasa, sungguh saya sangat bangga bisa berkenalan dengan Anda Bunda Prayangan."
"Itu tidak perlu, Amira. Kamilah yang seharusnya bangga bertemu denganmu, karena kedatanganmu ini sudah diramalkan sejak lama oleh tetua-tetua kami."
"Jadi kedatanganku sudah diramalkan, Bunda?"
"Begitulah adanya anak cantik. Sekarang jika kamu sudah siap, mari kita pergi menghadap Baginda Banaba."
"Aku butuh mandi, setelah petualangan yang melelahkan itu Bun ...." aku tidak melanjutkan kata-kataku lagi, setelah kudapati penampilanku yang sungguh sangat berbeda, "Astaga!"
"Di negeri ini kami tidak membersihkan diri dengan air, Amira. Udara segar membersihkannya, dan semoga kamu suka dengan baju yang kamu kenakan itu. Kami sengaja memilihkan pakaian, sesuai dengan model dan pembawaan baju yang kau kenakan di awal."
Sangat luar biasa pakaian yang mereka pakaikan di tubuhku, terlihat ketat tetapi tidak terasa menekan. Tidak seperti pakaian yang selama ini kukenakan, dari benang-benang. Tetapi ini entah apa bahan yang dibuat, hanya perasaan nyaman saja yang terasa.
"Terimakasih, Bunda. Pakaian ini begitu pas di tubuhku, perasaan pun nyaman mengenakannya!" seruku riang.
"Gaya berpakaianmu tidak terlihat aneh di negeri kami, karena itu mirip dengan baju yang dikenakan para ksatria kerajaan."
"Benarkah? Saya terkejut mendengarnya, Bunda."
"Tidak perlu terkejut, karena sepertinya kamu dilahirkan untuk menjadi seorang ksatria juga," kata Bunda Prayangan sambil mendekat ke arahku, ketika sudah mulai berdiri dari tempat tidur.
Baru kusadari tempatku tidur selama ini ternyata sangat indah, terbuat dari sejenis besi yang berwarna keemasan. Atau mungkin itu memang emas? Seprai berwarna pink dengan hiasan bunga dan burung Phoenix, dengan renda-renda rumit dari benang emas.
"Amira, jika kamu sudah siap mari kita berangkat." Lamunanku pun buyar, karena dikejutkan oleh suara lembut wanita cantik itu.
"Kemana kita akan pergi, Bunda?" seperti tiba-tiba menjadi bego, aku sama sekali tidak bisa mengingat percakapanku sebelumnya.
Bunda Prayangan tersenyum, menggamit kedua lenganku sambil berkata.
"Kita akan menghadap Baginda Raja, Sayang."
"Oh yang itu? Baiklah, saya siap Bunda."
*****
Perjalanan dari kamar menuju tempat sang raja sangatlah menyenangkan, beberapa dayang mengiringi langkah kaki kami dengan nyanyian yang indah. Pintu dari setiap ruangan yang akan kami lewati terbuka sendiri, dan bunga dalam vas di sepanjang perjalanan sungguh luar biasa indahnya. Sebentar kemudian tibalah kami ke sebuah aula yang sangat luas, lantainya terbuat dari batu granit yang halus dan berkilau-kilauan.
Di sebuah meja yang sangat panjang, telah duduk berderet berhadapan beberapa orang dari bangsa mereka. Semua menunduk hormat kepadaku dan Bunda Ratu, dan betapa sangat terkejut mendapati Mbah Mijan, Jin Samin dan Kang Imam Bukhori ada diantara mereka.
"Mbah Mijan! Kang Imam! Jin Samin! Kalian juga berada di sini?" seperti bertemu dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun, aku segera berlari ke arah mereka yang duduk di dekat seseorang yang kursinya tidak berhadap-hadapan.
"Syukurlah kamu selamat, Nduk." Kata Mbah Mijan saat aku menyalaminya, juga Jin Samin dan Kang Imam Bukhori.
"Apa yang terjadi denganku, Mbah?" tanyaku tidak sabar, seraya menduduki kursi kosong di sebelah Mbah Mijan.
"Bersabarlah, nanti kamu akan tahu alasannya." Kelembutan kata-kata Mbah Mijan telah sanggup meredakan rasa penasaran di dalam hatiku, entah mengapa berada di sisi lelaki tua itu seakan merasa terlindungi.
"Amira, sekarang perkenalkan mereka yang hadir di pasamuwan (pertemuan) ini. Mereka adalah golongan Ksatria Putih dari golongan kami, yang akan membantu kalian menghancurkan Ksatria Hitam Jin Palon dan sembahan mereka Iblis Ajajil," kata Bunda Prayangan sambil berdiri di tepi meja dekat Baginda Raja.
"Yang memaki zirah² berwarna biru bernama Biruna, ksatria langit."
Seseorang yang dimaksud segera berdiri dan membungkukkan badannya, sangat tampan dengan kulit putihnya. Akupun segera mengangguk membalas penghormatannya.
"Yang memakai zirah berwarna kuning bernama Nawala, ksatria angin."
Seperti sebelumnya, dia pun membuat gerakan penghormatan kepadaku. Aku juga membalasnya dengan penuh kebanggaan.
"Yang ketiga adalah Ksatria Bumi, kamu sudah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dialah Nadenta, seperti yang kamu lihat dia tidak berzirah."
Wanita cantik dimaksud pun berdiri, dan aku langsung memberinya hormat terlebih dulu kepadanya. Nadenta pun membalasnya, sambil tersenyum padaku.
"Yang terakhir adalah Ksatria Api, dilambangkan dengan warna merah di zirahnya. Tetapi maaf, dia tidak suka memperkenalkan diri."
Aku terkejut ketika mengikuti arah jari telunjuk Bunda Prayangan, kuliat seorang jin dengan penampilan yang sangat aneh. Rambutnya panjang dan gondrong berwarna merah menyala, juga wajahnya. Baju zirahnya tidak berwarna merah, tetapi lebih kepada warna karat karena tidak terawat.
Medki dia tudak bereaksi dengan perkenalan itu, aku tetao membungkukkan badan sebagai salam kenal padanya.
"Karena kamu sudah mengenal tiga orang ini, maka segera kuperkenalkan saja Baginda Raja Baldewa," kata terakhir Bunda Prayangan, sebelum duduk kembali ke kursinya.
"Selamat datang di negeri kami, Amira dan para pengawal."
Meskipun terkejut dengan kata-katanya, aku tetap berdiri dan memberi penghormatan kepada baginda. Siapakah pengawal yang beliau maksud? Dan pertanyaan itu terjawab kontan, ketika Mbah Mijan, Jin Samin dan Imam Bukhiri berdiri menyertaiku memberikan penghormatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar