"Kedatanganmu tepat seribu tahun, dari kekalahan kami melawan pasukan kegelapan. Dan sesuai dengan yang sudah diramalkan oleh pendahulu kami, kamu datang dengan ciri-ciri seperti yang mereka sebutkan." Raja Baldewa membuka pembicaraan, sementara para dayang datang bersamaan menghidangkan makanan dan minuman ke meja besar itu.
"Ciri-ciri apakah itu, Yang Mulia?" tanyaku tidak mengerti.
"Nadenta akan menjelaskannya pada kita semua, nanti. Sementara itu, mari menikmati sajian ini."
Raja Baldewa dan Ratu Prayangan dengan sangat santun mempersilakan kami, membuatku dan juga Kang Imam tertegun keheranan.
"Mari silakan, saudara Imam Bukhori dan pemimpin perang akbar kita Amira. Jangan khawatir, kami mendatangkan makanan dari arcapada (bumi) khusus untuk kalian." Rupanya sang Ratu melihat kegelisahan dan kebingungan kami, menghadapai hidangan di atas meja. "Perlu kalian ketahui, Nadenta itu sesungguhnya adalah manusia biasa seperti kalian juga."
Aku dan Kang Imam serentak memandangi wajah Ksatria Bumi itu dengan keheranan, yang dipandang malah tersenyum-senyum dalam anggukan kepala.
"Di bumi ragaku sudah tua renta, kita sudah sering bertemu sebelumnya di Surabaya." Nadenta membuat satu gerakan dengan tangan kananya di dahi, mungkin untuk memancing daya ingatku tentangnya.
"Gerakan seperti itu sering dilakukan oleh Mak Bawuk, penjual jamu gendong tua langganan keluarga kami!" jawabku berdebar.
"Pintar! Akulah Mak Bawuk, Amira. Jamu yang kau minum selama ini sesungguhnua adalah Tirta Kamandanu (air keabadiaan), yang memang kami persiapkan untuk mempertajam daya serta kemampuanmu."
"Tidak kusangka, sejak kecil Mak Bawuk ... eh Nadenta Sang Ksatria Langit sudah menjaga dan melatihku!"
"Karena kamu istimewa, Amira. Kelahiranmu tepat pada hari Sabtu Pahing, memiliki neptu hari dengan jumlah hitungan18. Hari paling istimewa untuk kelahiran Dewi Srikandhi, yang menitis di tubuhmu hingga usiamu mencapai 20 tahun nanti."
"Luar biasa, sesuai benar dengan mimpi-mimpiku selama ini. Tentang Dewi Hapsari dan Begawan Giri Nata yang datang melatihku ilmu kesaktian juga kesehatan, sejak usia tujuh tahun seingatku."
"Kamilah yang kau maksudkan itu, Amira. Sang Hyang Jagad Giri Nata adalah Raja Baldewa, sedangkan Dewi Hapsari adalah penjelmaanku," kata Ratu Prayangan menjelaskan. "Kamu masih ingat dengan pusaka yang kami tanamkan di telapak tangan kiri dan kananmu, pada suatu malam? Saat inilah kamu akan dapat mengeluarkannya, sepasang pedang emas bernama Jagad Gumelar."
Tiba-tiba kedua telapak tanganku mengepal erat dan bergetar hebat, aku ingat mereka mengajariku bagaimana mengeluarkan pusaka itu.
"Jagad Gumelar, keluarlah!" teriakku, diikuti berputar-putarnya cahaya keemasan melingkupi seluruh tubuh. Telapak tanganku terbuka, lalu denan waktu yang sama menutup kembali.
Aku sangat terkejut, karena tiba-tiba dua bilah pedang panjang bercahaya emas sudah dalam genggaman kedua telapak tanganku. Sama sekali tidak terasa berat, bahkan perasaanku bagai hanya menggenggam kapas. Tetapi angin yang ditimbulkannya sangat luar biasa, kegaduhan kecil segera terjadi di ruangan itu.
"Sudah cukup, Nduk! Sarungkanlah kembali kedua pedang saktimu itu, sekarang." Dengan arif Mbah Mijan memintaku, untuk memasukkan kembali kedua senjata itu ke dalam tubuh.
"Sudah menjadi takdirmu, Amira. Dalam perang ini, kamu akan selalu didampingi oleh Ki Mijan Sang Badranaya dan Imam Bukhori." Kudengar Raja Baldewa berkata seperti itu, membuatku menoleh ke arah Mbah Mijan yang tersenyum padaku. Sementara sama denganku, Kang Imam juga tampak masih kebingungan.
"Imam Bukhori sejatinya titisan Prabu Narayana atau Raja Kresna, tetapi agama serta keyakinan mereka yang berbeda membuat penitisan mereka nyalawadi. Aneh, istimewa, karena Prabu Kresna hanya dapat menyatu dalam raga Imam Bukhori saat-saat genting saja," jelas Raja Baldewa dengan wajah seriusnya.
"Sedangkan Ki Mijan adalah titisan Kyai Semar Badranaya, sesepuh kami bangsa Dewa, sesepuh Jin Kala, Sesepuh Jin Peri serta bangsa halus lainnya. Bahkan sesungguhnya, Iblis Ajajil sangat menghormatinya. Pada saat tertentu, dia akan berubah menjadi wujud aslinya," Sang Ratu terus saja membuka rahasia-rahasia mengejutkan dua manusia itu.
"Tunggu dulu!" aku berdiri dari tempat duduk, kulihat semua yang hadir nampak terkejut, "Jadi, apakah sebenarnya aku sedang bermimpi saat ini?"
"Duduklah, Nduk. Kamu tidak sedang bermimpi, ini adalah kenyataan. Cubitlah tubuhmu, kamu akan merasakan sakit karenanya." Mbah Mijan memegang pundakku, mengajak kembali duduk.
"Tidak, Amira. Kamu tidak sedang bermimpi, di sinilah kamu sekarang, beserta ragamu yang di awal sedang bermeditasi di rumah tua itu," Raja Baldewa memberikan penjelasan. "Apa yang dikatakan Ki Mijan adalah benar, kalian berada di sini dengan jiwa raga kalian sejati."
"Bagaimana dengan nasib kedua orangtuaku, Baginda?" tiba-tiba aku teringat ayah dan ibuku.
"Mereka baik-baik saja, Amira. Jin Palon dan Iblis Ajajil tidak akan bisa menyakiti mereka, karena kami sudah membungkus jiwa dan raga mereka dengan ilmu kedewataan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar