Para ibu mulai cerewet membangunkan anak-anak perempuannya, untuk segera bangun membantu pekerjaan mereka di dapur. Tetapi tidak di rumah Mbok Temu, kegiatan di rumah itu dimulai dengan sepi-sepi saja. Karena Sriati anak semata wayangnya, gadis itu sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya di dapur ketika ibunya bangun.
"Seperti biasa, aku terbangun saat mencium aroma lezat dari olahan yang kau masak, Nduk¹." Wanita itu terjaga, tetapi masih menahan tubuhnya di pinggir tempat tidurnya.
"Simbol sudah bangun? Berdiam saja dulu di tempat itu, aku akan mengantarkan segelas rebusan Jahe." Gadis muda berparas ayu, dengan rambut panjang tergelung rapi itu, segera mengantarkan segelas minuman kepada ibunya.
Mbok Temu memang tidak sesehat biasanya, beberapa hari ini dia kurang enak badan. Masuk angin biasa, setelah dia kehujanan sepulang dari ladangnya.
"Kamu masak apa hari ini, Sri?" tanya wanita limapuluh tahunan itu dengan suara gemetar, setelah berhasil menggerakkan tubuhnya untuk bersandar di dinding kamarnya.
"Kita sarapan bubur saja ya, Mbok. Kata Bu Guru, itu bagus untuk orang yang sedang sakit ...." jawab Sriati, yang langsung menuangkan beberapa sendok bubur ke sebuah piring.
"Simbok tahu itu, tetapi untukmu ... apakah bubur bisa menumbuhkan tenagamu?"
Sriati tersenyum manis, kemudian mengantarkan sepiring bubur ke tempat ibunya.
"Ingin kusuapi buburnya, Mbok?"
"Tidak usah, Sri. Jika sudah selesai memasak, segera pergilah mandi. Hari ini kamu akan membantu menanam di ladang siapa, Nduk?" tanya perempuan kurus itu, setelah menerima sepiring bubur dari tangan anaknya.
"Ladang Yu Darpi, Mbok. Hanya tersisa ladangnya saja yang akan ditanami Kacang Tanah, ladang lainnya sudah beberapa hari yang lalu."
"Memang kenapa ladang Darpi sampai ketinggalan tanam seperti ini, apakah dia kesulitan mendapatkan bibit?"
"Bukan begitu, Mbok. Yu Darpi dan suaminya, Kang Kasiman, baru saja pulang dari mengunjungi anak dan menantunya di Kecamatan Kaliwang."
"Ada apa dengan Karsan dan istrinya, sehingga mereka harus dikunjungi Darpi dan suaminya?"
"Istri Karsan melahirkan anak pertama, Mbok."
Mendengar jawaban anak gadisnya, tatapan Mbok Temu menjadi murung. Sriati melihat perubahan air muka orangtua satu-satunya itu, kemudian dia mencoba mendekati.
"Simbok ...."
"Seandainya dulu kamu berjodoh dengan Karsan, mungkin hari ini Simbok sudah bisa menimang seorang cucu ...."
"Mbok, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Simbok sedang sakit, nanti malah tidak sembuh-sembuh karena terus kepikiran dengan masalah itu," Sriati memegang tangan ibunya, ketika dia mencoba duduk di dipan yang sama, "kami memang tidak berjodoh, Mbok."
Sriati terkenang kembali pada peristiwa setahun yang lalu, ketika dia dan Karsan masih menjalin kisah kasih. Setelah setahun, mereka sudah merasa pasti dengan satu keputusan. Menikah.
Tetapi tak seindah yang mereka impikan, proses menuju ke arah itu sudah harus gagal di awal pembicaraan. Neptu² atau Weton² keduanya, tidak memungkinkan kedua keluarga untuk meneruskan menikahkan keduanya. Tidak ada seseorang pun yang berani menyetujui pernikahan mereka, keluarga Karsan menolak pun keluarga Sriati, hanya Pak Rodi, ayah Sriati yang tetap nekad ingin menikahkannya.
Batalnya proses lamaran dan pernikahan anak sematawayangnya, membuat kejiwaan lelaki tua itu hancur lebur. Setelahnya dia hanya tampak murung, tidak banyak bicara, sering melamun di tempat-tempat yang sepi. Hingga akhirnya dia sakit, tidak mau makan walaupun dipaksa, hanya beberapa hari saja, dia pun meninggal dunia.
"Sri ...." panggilan dan sentuhan lembut di pundak, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, "bersiap-siaplah untuk pergi ke ladang. Matahari sudah mulai muncul, sinarnya mulai menembus celah-celah genteng rumah kita.'
"Eh iya, Mbok ...." Sriati tidak melanjutkan kata-katanya, karena dari depan pintu dia mendengar seseorang berseru-seru.
"Sri! Sriati! Ayo berangkat, jadi perawan jangan bangun keduluan ayam!"
Itu suara Partinah, teman sebayanya, sahabta terbaiknya semasa anak-anak hingga saat ini.
"Iya, iya!" jawab Sriati yang langsung berjalan mengambil Caping⁴ di dinding dapur, menyambar buntalan di atas meja, kemudian pamit kepada simbolnya.
"Aku pergi dulu ya, Mbok. Nanti agak siang sedikit, seperti biasa, Murtini akan datang untuk menemani"
Wanita tua itu hanya mengangguk dan tersenyum, sembari merelakan kepergiannya dengan seulas dia di dalam hati.
*****
"Anakku juga sedang sakit hari ini, Sri. Aku titipkan pada ibuku, karena Kang Darso suamiku, juga ada pekerjaan menyiangi kebun Haji Matahir." Martinah memulai percakapan di sepanjang perjalanan itu. "Badannya panas sejak semalam."
"Apa karena mau tumbuh gigi, Nah?" tanya Sriati.
"Aku tidak tahu, Sri. Tapi ibuku juga bilang begitu, saat kutitipi anakku tadi," jawab Partinah, kemudian memandang keheranan pada wajah sahabatnya itu, "kok kamu tahu, kalau anak mau tumbuh gigi akan demam, Sri?"
"Aku mencoba menebak saja, Nah?"
"Padahal kamu kan belum pernah punya anak, menikah saja belum?"
Sriati tersenyum mendengar kata keheranan sahabatnya itu, bahkan dia sama sekali tidak tersinggung.
"Aku tahu tentang itu, karena beberapa orang sebelum kamu, pernah menceritakannya padaku .... makanya, kumpul sama tetangga. Jangan di kamar saja dengan suami!"
"Aduh, ampun deh. Runcing juga bibir perawan ini, sini biar kuremas bibirmu. Sini!"
Partinah tampak seolah-olah ingin melaksanakan ancamannya itu, tetapi malah tampak seperti anak kecil yang sedang berebut permen. Tentu saja dia tidak bersungguh-sungguh, karena mereka sudah berlari semenjak anak-anak. Sehingga beberapa orang di sekitarnya tidak merasa khawatir, bahkan ikut tergelak melihat kekonyolan mereka.
*****
Matahari hanya sepenggalah, ketika dari kejauhan seseorang datang berlarian di pematang ladang.
"Hei, kalian! Sedang ada keramaian di pendapa Pedukuhan!" suara Kang Kasiman menggema di siang bolong, ketika itu yang bekerja di ladang belum bereaksi.
"Ngomong yang jelas, Kang!" seru Yu Darpi pada suaminya, beberapa perempuan yang sedang istirahat memakan bekalnya masing-masing mengangguk setuju.
Lelaki setengah baya itu melambaikan tangan, tanda meremehkan permintaan istri tercintanya. Walaupun begitu, dia mendekat juga ke kerumunan di bawah pohon trembesi itu.
"Ada apa di pendapa Pedukuhan, Kang?" tanya Yu Darpi lagi, lelakinya itu masih tampak tersengal-sengal.
"Ada calon Bupati ...." jelas sekali, jika kedatangan Kang Kasiman itu dipaksakan. Lelaki itu hampir saja kehabisan nafasnya, sehingga meminta diangsurkan sebuah kendi⁵ untuk diteguknya.
"Calon Yu Parti, Man?" tanya Mbok Darsilah, yang duduk paling ujung. Pendengarannya memang agak menurun, konon karena kegemarannya menenggak obat warungan.
"Bukan calon Yu Parti, Mbok. Tapi calon Bupati!" jawab Sriati dengan suara keras, agar wanita sepuh itu bisa mendengar suaranya.
"Bupati mana? Blambangan?" goda Mbok Darsilah, membuat semua yang ada tertawa ... kecuali Parsiman tentu saja, dia masih berkutat dengan cara mengatur nafas setelah berlari-larian.
...