Namaku Amira Puspandari, umurku 17 tahun, aku seorang indigo. Seseorang yang memiliki kepekaan supranatural, orang bilang sebagai pemilik keahlian cenayang¹. Aku bisa melihat mahluk halus, roh, dari jenis jin atau arwah.
Sebelumnya aku tinggal di Kota Surabaya, tetapi karena kondisi Ayah yang terserang penyakit paru-paru ... dokter menyarankannya untuk lebih banyak menghirup udara segar pegununungan. Akhirnya, Ayah menjual rumah kami. Membayar semua utang-utang, dan memutuskan berhenti bekerja di sebuah perusahaan makanan ringan. Kami pindah ke pedesaan, di kaki gunung Arjuno, Pasuruan.
Ayah membeli rumah ini dengan harga yang sangat murah, tidak sampai seperempat harga dari rumah dengan ukuran yang sama. Bukan karena Ayahku pandai menawar, tetapi karena rumah itu memang sudah lama tidak didiami.Dari mulut pekerja yang membantu memasukkan barang pindahan, dia bercerita tentang keangkerannya.
Pemilik pertama rumah itu, adalah keluarga yang difitnah sebagai antek PKI (partai terlarang). Orang memanggilnya Ndoro² Bugeng, pemilik perkebunan teh yang cukup terpandang dan kaya raya. Seorang mandor bawahannya bersumpah, pernah melihat bendera PKI terpasang di kamar tuannya. Sesungguhnya hanya muslihat sang mandor, karena ingin menguasai harta kekayaan tuannya. Mendompleng kekisruhan politik kala itu.
Akhirnya, sang tuan dibunuh dengan sangat kejam oleh para algojo dari pasukan hitam. Kepala Ndoro Bugeng, kepala istrinya, dan kepala kedua anak perempuannya mereka penggal, kemudian ditancapkan di pagar bambu, yang konon dulu pernah ada di depan rumah itu. Penduduk sekitar akhirnya mengubur keempat jasad ke dalam satu lubang, di pekarangan belakang rumah mereka sendiri.
Setelah huru-hara politik mereda, perkebunan teh pun dijual sang Mandor kepada seorang tuan tanah. Dan rumah beserta isinya, dijual kepada seorang Tionghwa bernama Babah³ Oong, seorang pedagang barang kelontong di pasar kecamatan.
Keanehan demi keanehan pun dimulai semenjak rumah itu ditempati kembali, satu persatu penghuni rumah meninggal secara tidak wajar dengan sungguh sangat mengerikan.
Pertama, anak gadis Babah Oong yang bernama Meimei ditemukan meninggal tergantung berlumuran darah, di dahan sebuah pohon nangka yang sangat besar. Tidak lama kemudian disusul dengan meninggalnya Meiling adiknya, tubuhnya juga ditemukan meninggal tergantung di dahan pohon sawo yang besar. Disekujur tubuh keduanya ditemukan banyak luka rajam, luka sayatan bahkan ususnya terburai.
Istri Babah Oong yang biasa disapa Tacik oleh penduduk sekitar, akhirnya menjadi gila, setelah tragedi beruntun yang menimpa keluarganya itu. Setiap tengah malam dia selalu berteriak histeris, suara teriakannya terdengar berat dan serak. Seperti suara manusia yang sedang digorok lehernya, serta selalu meneriakkan sebuah nama dengan kemurkaannya.
"Mandooor! Mandooor! Mandoooor!"
Kejadian-kejadian yang sungguh mengerikan di rumah itu, membuat tetangga di sekitarnya menjadi ketakutan. Satu persatu mereka membongkar rumah, kemudian pindah ke tempat yang sekarang menjadi sebuah desa baru. Rumah tua itu ditinggalkan berdiri sendiri, hanya bertetanggakan padang ilalang yang melingkupinya seperti sekarang ini.
Untunglah, seorang yang baik hati bernama Mbah Mijan sudi merawat rumah itu. Membersihkan seisi rumah dan pekarangan sekitarnya, dari rumput ilalang dan tumbuhan menjalar lainnya. Sehingga walaupun puluhan tahun tidak ditempati, kondisi rumah itu selalu tampak bersih. Walaupun memang kesan angker dan sangar, tetap kental terlihat juga terasa di rumah itu.
Setelah kematian kedua putrinya, babah Oong menikahi seorang wanita bisu, adik kandung Mbah Mijan muda. Maksudnya agar ada yang merawat dan mengawasi Tacik, ketika Babah Oong berjualan di pasar.
Tetapi nasip malang tidak dapat dihindari, wanita itupun tewas dengan sangat mengenaskan di tangan istri tua suaminya. Tacik yang sudah menjadi gila membunuhnya, dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Menenggelamkan kepala wanita muda itu ke dalam air mendidih, yang sedianya akan dipakai memandikan wanita gila tersebut.
Rambut panjang serta kulit wajah istri muda Babah Oong sampai terkelupas dari batok kepalanya, sehingga menampakkan kedua matanya yang melotot dan kerangka mulutnya yang menganga.
Mendapati kejadian yang sangat mengerikan itu, Babah Oong tidak bisa berfikir jernih lagi. Diambilnya sebuah kapak pembelah kayu bakar, dihantamkannya benda itu ke kepala Tacik. Kepala wanita itupun hancur berantakan, darah juga serpihan-serpihan otaknya berceceran di dinding serta lantai dapur. Setelah itu, dia pun mengakhiri hidupnya dengan menenggak sebotol cairan racun tikus.
Mayat mereka baru dikuburkan seminggu kemudian, karena tidak ada yang mengetahui kejadiannya. Mereka baru menyadari, setelah aroma busuk dari mayat-mayat itu menyebar terbawa angin menuju arah desa. Maka berbondong-bondonglah segenap warga desa mendatangi rumah itu, kemudian segera menguburkannya tanpa upacara keagamaan.
Berpuluh tahun rumah itu tidak lagi ada yang berani menghuninya, tidak seorang pun berani menempatinya. Bahkan berada terlalu dekat dengan rumah itu, sudah menjadi kengerian tersendiri bagi siapapun. Hingga Ayahku dengan gagah berani datang membelinya.
*****
"Ami!" terdengar suara Ayah memanggilku dari dalam rumah, saat aku sedang berada di depan rumah mengamati alam sekitarnya. Dengan setengah berlari, aku masuk ke dalam rumah itu untuk pertama kalinya. Karena selama proses pemindahan barang dari truk ke dalam rumah, aku dilarang keras orangtuaku untuk membantunya.
Kulihat ayahku sedang duduk di sebuah kursi kuno di ruang tamu, wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Ayah memang sudah terlihat tua diusia 60 tahunnya, tampak sudah sangat terbatas gerak tubuh dan tenaganya. Mungkin ayah terlalu penat, mengatur barang pindahan di kondisinya yang sakit-sakitan itu.
"Ayah memanggilku?" tanyaku, sesampai di dekatnya.
"Pergilah ke warung di desa sana, belikan ayah obat sakit kepala. Sebelumnya, pergilah kepada ibumu ... jika dia juga ingin menitip barang belanjaan," jawab Ayah sambil menuding ke arah dapur, dimana terdengar suara ibuku sedang mengatur peralatan dapur. Aku mengangguk, lalu berjalan menuju ke arah dapur.
Ketika melintasi kamar di samping ruang tamu, dengan sengaja aku melongok ke dalamnya. Hampir saja aku jatuh terpelanting karena terkejut, terlihat bayangan sesosok gadis bergaun kuning gading sedang menyisir rambutnya. Dari bayangan kaca yang menghadap ke pintu kamar, aku dapat melihat gadis itu sedang menatapku dengan senyum yang terlihat sangat kesakitan.
Samar-samar aku memperhatikan ada tanda merah melingkari lehernya, terlihat seperti bekas tebasan benda yang sangat tajam. Aku membalas senyumnya, ketika tiba-tiba bayangan itu menghilang. Langkah kakiku yang bermaksud menghampirinya terhenti seketika, karena kudengar suara ibuku.
"Kamu lagi ngapain bengong disini, Ami!" teguran Ibu yang tidak kusadari sudah berada di sampingku, membuatku lebih terkejut dari rasa kagetku melihat penampakan si gadis bergaun kuning gading tadi.
"Eh, Ibu. Ayah menyuruhku menanyakan pada Ibu, kalau-kalau ingin membeli sesuatu barang. Karena aku disuruh Ayah, membeli obat sakit kepala di warung, Bu." jawabku, sambil masih tetap celingukan ke dalam kamar.
"Baiklah, belikan sekilo gula, sekilo beras, sabun mandi, pasta gigi, dan samphoo. Itu saja." Kata Ibu lembut, dan langsung balik kembali pada kesibukannya di dapur.
Ketika pamit pada Ayah, kulihat wajahnya semakin memucat. Dia tidak menjawab salamku, mungkin tertidur karena kelelahan. Setelah menutup pintu depan, aku segera berjalan menuju jalan setapak ke arah desa.
Di sini tiba-tiba aku bisa merasakan hawa aneh yang melingkupi rumah itu, seakan kabut hitam yang sangat pekat sedang membelenggunya. Baru kusadari juga, sama sekali tidak ada tumbuhan apapun di sekitar pekarangan rumah. Hanya padang ilalang yang sangat luas, hingga batas rumpun-rumpun bambu di pinggiran desa.
*****
Ditengah perjalanan aku bertemu dengan Mbah Mijan, orang yang selama ini merawat rumah tua yang kami tempati sekarang itu. Dia tampak sedang menggembalakan kambing-kambingnya, tersenyum ke arahku dan bertanya.
"Kamu hendak kemana, Nduk⁴. Hari menjelang sore begini?"
Aku segera menghampirinya, menjabat serta mencium tangan kanannya. Pada saat itulah aku baru menyadari kehadiran sesosok mahluk dari bangsa Jin, yang sedang duduk bersila di atas sebuah batu besar disamping jalan setapak. Jin berjubah biru itu membuat gerakan memberi hormat padaku, aku mengangguk seraya membalas salamnya dengan anggukan kepala.
"Ayah menyuruhku membeli obat sakit kepala, dan ibu memintaku membelikan beberapa barang, Mbah" jawabku sambil tak lepas memandangi aktifitas jin yang tubuhnya seukuran manusia itu, di atas sebuah batu besar.
Rupanya, Mbah Mijan mengerti dengan apa yang sedang kulakukan.
"Kamu sedang memperhatikan siapa, Nduk? Kulihat, pandanganmu tidak lepas dari batu besar itu. Apa kamu bisa melihatnya juga?" aku terkejut dengan pertanyaan lelaki, yang kira-kira sudah berumur 80 tahunan itu. Bisa melihat juga? Itu artinya Mbah Mijan juga bisa melihat yang aku lihat?
"Maaf, Mbah?"
"Iya, Nduk. Yang kamu lihat di atas batu besar itu, dia adalah Jin Samin. Dia jin muslim yang menguasai seluruh kawasan ini, kecuali sekitaran rumahmu yang dikuasai oleh Jin Palon, salah satu perwujudan dari Iblis Ajajil." Jawab Mbah Mijan, yang juga membuat gerakan memberi hormat ke arah batu besar itu sebelum akhirnya Jin Samin menghilang.
"Kenapa begitu, Mbah?" tanyaku kemudian, kulihat dia membuat isyarat dengan tangannya sekali lagi. Seperti sudah memahami isyaratnya, kambing-kambing itu langsung berlarian menuju jalan desa. Lalu orang tua itu mengajakku beranjak, sementara itu kegelisahan mulai melingkupi langkahku disampingnya.
"Rumahmu itu dan lingkungan sekitarnya adalah wilayah kekuasaan Jin Palon dari golongan Iblis, sementara wilayah desa, sawah dan ladang dikuasai oleh Jin Samin. Keduanya mewakili sifat yang berbeda, Jin Samin adalah seorang jin muslim."
Tiba-tiba lelaki itu mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, lalu berkata dengan pelan di dekat telingaku.
"Bersikaplah biasa saja, Nduk. Kamu sedang diikuti, tetapi jangan sekali-kali menoleh ke belakang."
Mbah Mijan berkata seperti itu, membuatku memahami apa yang dimaksudkannya. Aku juga mulai merasakan kehadiran makhluk-makhluk astral di sekitarku, sementara matahari mulai mendekati senja.
Sampai di sebuah pos penjagaan di pinggiran desa, orangtua itu mengajakku berhenti berjalan. Duduk di balai bambu yang ada di sana, ketika satu keajaiban terlihat olehku. Mbah Mijan memerintahkan kambing-kambingnya untuk pulang dulu ke rumah, dan dengan riang mereka mematuhi perkataannya.
"Duduklah di sini saja, sementara aku akan pergi membeli barang kebutuhanmu di toko. Ingat, dengan alasan apapun 'jangan meninggalkan' pos ini sejengkal pun!"
"Iya, Mbah."
Ketika lelaki tua itu sudah tidak tampak lagi punggungnya, aku mendengar sayup-sayup suara azan dikumandangkan. Dimensi telah benar-benar berubah saat itu, karena mata bathinku sudah mulai bisa merasakan suara-suara aneh dan beberapa kali penampakan yang berkelebat.
Dari jalan menuju rumah, samar-samar kulihat seseorang sedang berjalan tergesa menuju ke arahku. Semakin mendekat, sehingga akhirnya dapat kukenali. Cahaya temaram senja menghalangi pandanganku, untuk segera daoat memastikan kehadirannya.
'Ibu? Apa yang dilakukanya, dengan meninggalkan Ayah seorang diri di rumah?' pikirku, setelah meyakini apa yang tampak dalam penglihatanku. Kapan dia mandi dan berhias, hingga tampak seperti hendak pergi ke kondangan seperti itu?
"Ami kemarilah, Nak!" tiba-tiba Ibu memanggilku dari tempatnya berhenti melangkah. Tidak ada penghalang apapun, tetapi mengapa dia berhenti begitu jauh?
Aku hanya memandangi bayangan yang menyerupai orangtuaku itu, tanpa berniat untuk menghampirinya. Pesan dari Mbah Mijan agar aku tudak meninggalkan tempat itu, terngiang-ngiang di telingaku.
"Ami, ini ibu Nak!" suaranya mulai berubah, aku tidak menggubrisnya.
Tiba-tiba sebuah ledakan dari gumpalan asap hitam terjadi, dan bayangan tubuh ibuku pun lenyap bersama asap. Bersamaan dengan itulah kurasakan dua telapak tangan memegangi pundakku dengan kuat, membuatku memberontak dengan sekuat tenaga.
"Lepaskan! Lepaskan!" teriakku sekencang-kencangnya.
"Ami! Ini aku, Mbah Mijan!" terdengar suara serak orangtua yang baru kukenal seharian ini. Kupalingkan muka untuk melihatnya, dan apa yang terlihat disamping tubuhnya sungguh sangat mengejutkan.
"Si ... siapa ini, Mbah?" tanyaku dengan suara terputus, setelah kulihat seorang pemuda tampan yang berdiri di sampingnya.
"Kenalkan, ini adalah Ahmad Thohari yang akan membantu kita." Jawab Mbah Mijan pasti, sambil membuat isyarat kepada pemuda bersongkok itu untuk berbicara.
Pemuda berkulit putih itu memberikan salam dengan suaranya sungguh sangat merdu, lembut tetapi penuh dengan kekuatan, yang membuatku terbengong lupa menjawab salamnya.
"Eh, iya. Namaku Amira Puspandari, panggil saja Ami."
Kekikukan sesaat itupun segera berakhir, karena tiba-tiba kabut hitam bergulung-gulung itu datang lagi.
"Mbah!" pekikku kebingungan, ketika merasa gerakan kabut itu seakan hendak menerpaku.
"Tenang saja, Nduk. Kekuatannya tidak akan berlaku di luar batas wilayah kekuasaannya, ini daerah kekuasaan Jin Samin."
Kulihat ke arah Ahmad Thohari, dia seperti sedang khusyuk membaca doa sambil memutarkan tasbih di jemarinya. Perlahan kabut itupun menghilang lagi.
"Siapa yang mengirimkan kabut ini, Mbah?" tanyaku.
"Itu terlihat seperti kabut dalam penglihatanmu, padahal inilah salah satu penampakan dari Jin Palon yang menguasai rumahmu. Kita harus bergegas ke sana, sebelum kejadian buruk menimpa kedua orangtuamu." Mbah Mijan membuat isyarat kepadaku dan Ahmad, untuk segera bergegas mengikuti kabut hitam itu pergi.
Dalam perjalanan pulang itulah baru kusadari, ternyata ada Jin Samin dan beberapa lainnya di belakang langkah kami. Sepertinya mereka sudah siap memulai pertempuran besar, karena perlengkapan perang dan senjata yang mereka bawa.
"Ini waktu yang tepat untuk menyucikan rumahmu, Nduk. Persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap, semoga kita belum terlambat!"
"Apa maksudnya, Mbah?" tanyaku kebingungan, diantara ketergesaan langkah kaki kami.
"Syarat utama gadis pemilik hak baru atas rumah itu sekarang sudah ada, yaitu dirimu. Pemilik-pemilik sebelumnya yang memiliki anak gadis, selalu mereka bunuh untuk memutus jalan penyucian."
"Memutus jalan?"
"Iya, Nduk. Hanya kamu yang akan bisa membawa kami menuju istana mereka, kemampuan kami terbatas untuk melakukan itu sendiri."
Aku terdiam saat melihat Jin Samin sedang memagari rombongan kami, dengan energi api biru yang berkobar-kobar.
"Tingkatkan kewaspadaan, kita sudah mendekati wilayah kekuasaan mereka!" seru Mbah Mijan kepada semua, "Jin Samin, bawalah beberapa lagi untuk membentengi rumah Ami!"
Tidak ada jawaban, selain tiba-tiba melesatlah lima cahaya biru dari barisan kami. Dan itulah tanda pertempuran awal sudah dimulai, karena aku melihat berpuluh-puluh lesatan cahaya kuning mengejarnya.
(bersambung)
Agenda:
¹ Dukun peramal
² Tuan
³ Bapak dalam bahasa mandarin
⁴ Panggilan kepada anak perempuan (bahasa Jawa: Gendhuk)