Rabu, 17 Maret 2021

NYONYA BUPATI

Kabut tebal bergulung, turun dari atas perbukitan menuju lembah yang landai. Kemudian secara perlahan menurutkan angin dini hari, menuju sela-sela rumah-rumah kecil Dukuh Sekaraji. Sebagian penduduknya sudah terbangun, kemudian memulai aktifitasnya masing-masing.

Para ibu mulai cerewet membangunkan anak-anak perempuannya, untuk segera bangun membantu pekerjaan mereka di dapur. Tetapi tidak di rumah Mbok Temu, kegiatan di rumah itu dimulai dengan sepi-sepi saja. Karena Sriati anak semata wayangnya, gadis itu sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya di dapur ketika ibunya bangun.

"Seperti biasa, aku terbangun saat mencium aroma lezat dari olahan yang kau masak, Nduk¹." Wanita itu terjaga, tetapi masih menahan tubuhnya di pinggir tempat tidurnya.

"Simbol sudah bangun? Berdiam saja dulu di tempat itu, aku akan mengantarkan segelas rebusan Jahe." Gadis muda berparas ayu, dengan rambut panjang tergelung rapi itu, segera mengantarkan segelas minuman kepada ibunya.

Mbok Temu memang tidak sesehat biasanya, beberapa hari ini dia kurang enak badan. Masuk angin biasa, setelah dia kehujanan sepulang dari ladangnya.

"Kamu masak apa hari ini, Sri?" tanya wanita limapuluh tahunan itu dengan suara gemetar, setelah berhasil menggerakkan tubuhnya untuk bersandar di dinding kamarnya.

"Kita sarapan bubur saja ya, Mbok. Kata Bu Guru, itu bagus untuk orang yang sedang sakit ...." jawab Sriati, yang langsung menuangkan beberapa sendok bubur ke sebuah piring.

"Simbok tahu itu, tetapi untukmu ... apakah bubur bisa menumbuhkan tenagamu?"

Sriati tersenyum manis, kemudian mengantarkan sepiring bubur ke tempat ibunya.

"Ingin kusuapi buburnya, Mbok?"

"Tidak usah, Sri. Jika sudah selesai memasak, segera pergilah mandi. Hari ini kamu akan membantu menanam di ladang siapa, Nduk?" tanya perempuan kurus itu, setelah menerima sepiring bubur dari tangan anaknya.

"Ladang Yu Darpi, Mbok. Hanya tersisa ladangnya saja yang akan ditanami Kacang Tanah, ladang lainnya sudah beberapa hari yang lalu."

"Memang kenapa ladang Darpi sampai ketinggalan tanam seperti ini, apakah dia kesulitan mendapatkan bibit?"

"Bukan begitu, Mbok. Yu Darpi dan suaminya, Kang Kasiman, baru saja pulang dari mengunjungi anak dan menantunya di Kecamatan Kaliwang."

"Ada apa dengan Karsan dan istrinya, sehingga mereka harus dikunjungi Darpi dan suaminya?"

"Istri Karsan melahirkan anak pertama, Mbok."

Mendengar jawaban anak gadisnya, tatapan Mbok Temu menjadi murung. Sriati melihat perubahan air muka orangtua satu-satunya itu, kemudian dia mencoba mendekati.

"Simbok ...."

"Seandainya dulu kamu berjodoh dengan Karsan, mungkin hari ini Simbok sudah bisa menimang seorang cucu ...."

"Mbok, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Simbok sedang sakit, nanti malah tidak sembuh-sembuh karena terus kepikiran dengan masalah itu," Sriati memegang tangan ibunya, ketika dia mencoba duduk di dipan yang sama, "kami memang tidak berjodoh, Mbok."

Sriati terkenang kembali pada peristiwa setahun yang lalu, ketika dia dan Karsan masih menjalin kisah kasih. Setelah setahun, mereka sudah merasa pasti dengan satu keputusan. Menikah.

Tetapi tak seindah yang mereka impikan, proses menuju ke arah itu sudah harus gagal di awal pembicaraan. Neptu² atau Weton² keduanya, tidak memungkinkan kedua keluarga untuk meneruskan menikahkan keduanya. Tidak ada seseorang pun yang berani menyetujui pernikahan mereka, keluarga Karsan menolak pun keluarga Sriati, hanya Pak Rodi, ayah Sriati yang tetap nekad ingin menikahkannya.

Batalnya proses lamaran dan pernikahan anak sematawayangnya, membuat kejiwaan lelaki tua itu hancur lebur. Setelahnya dia hanya tampak murung, tidak banyak bicara, sering melamun di tempat-tempat yang sepi. Hingga akhirnya dia sakit, tidak mau makan walaupun dipaksa, hanya beberapa hari saja, dia pun meninggal dunia.

"Sri ...." panggilan dan sentuhan lembut di pundak, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, "bersiap-siaplah untuk pergi ke ladang. Matahari sudah mulai muncul, sinarnya mulai menembus celah-celah genteng rumah kita.'

"Eh iya, Mbok ...." Sriati tidak melanjutkan kata-katanya, karena dari depan pintu dia mendengar seseorang berseru-seru.

"Sri! Sriati! Ayo berangkat, jadi perawan jangan bangun keduluan ayam!"

Itu suara Partinah, teman sebayanya, sahabta terbaiknya semasa anak-anak hingga saat ini.

"Iya, iya!" jawab Sriati yang langsung berjalan mengambil Caping⁴ di dinding dapur, menyambar buntalan di atas meja, kemudian pamit kepada simbolnya.

"Aku pergi dulu ya, Mbok. Nanti agak siang sedikit, seperti biasa, Murtini akan datang untuk menemani"

Wanita tua itu hanya mengangguk dan tersenyum, sembari merelakan kepergiannya dengan seulas dia di dalam hati.

*****

"Anakku juga sedang sakit hari ini, Sri. Aku titipkan pada ibuku, karena Kang Darso suamiku, juga ada pekerjaan menyiangi kebun Haji Matahir." Martinah memulai percakapan di sepanjang perjalanan itu. "Badannya panas sejak semalam."

"Apa karena mau tumbuh gigi, Nah?" tanya Sriati.

"Aku tidak tahu, Sri. Tapi ibuku juga bilang begitu, saat kutitipi anakku tadi," jawab Partinah, kemudian memandang keheranan pada wajah sahabatnya itu, "kok kamu tahu, kalau anak mau tumbuh gigi akan demam, Sri?"

"Aku mencoba menebak saja, Nah?"

"Padahal kamu kan belum pernah punya anak, menikah saja belum?"

Sriati tersenyum mendengar kata keheranan sahabatnya itu, bahkan dia sama sekali tidak tersinggung.

"Aku tahu tentang itu, karena beberapa orang sebelum kamu, pernah menceritakannya padaku .... makanya, kumpul sama tetangga. Jangan di kamar saja dengan suami!"

"Aduh, ampun deh. Runcing juga bibir perawan ini, sini biar kuremas bibirmu. Sini!"

Partinah tampak seolah-olah ingin melaksanakan ancamannya itu, tetapi malah tampak seperti anak kecil yang sedang berebut permen. Tentu saja dia tidak bersungguh-sungguh, karena mereka sudah berlari semenjak anak-anak. Sehingga beberapa orang di sekitarnya tidak merasa khawatir, bahkan ikut tergelak melihat kekonyolan mereka.

*****
Matahari hanya sepenggalah, ketika dari kejauhan seseorang datang berlarian di pematang ladang.

"Hei, kalian! Sedang ada keramaian di pendapa Pedukuhan!" suara Kang Kasiman menggema di siang bolong, ketika itu yang bekerja di ladang belum bereaksi.

"Ngomong yang jelas, Kang!" seru Yu Darpi pada suaminya, beberapa perempuan yang sedang istirahat memakan bekalnya masing-masing mengangguk setuju.

Lelaki setengah baya itu melambaikan tangan, tanda meremehkan permintaan istri tercintanya. Walaupun begitu, dia mendekat juga ke kerumunan di bawah pohon trembesi itu.

"Ada apa di pendapa Pedukuhan, Kang?" tanya Yu Darpi lagi, lelakinya itu masih tampak tersengal-sengal.

"Ada calon Bupati ...." jelas sekali, jika kedatangan Kang Kasiman itu dipaksakan. Lelaki itu hampir saja kehabisan nafasnya, sehingga meminta diangsurkan sebuah kendi⁵ untuk diteguknya.

"Calon Yu Parti, Man?" tanya Mbok Darsilah, yang duduk paling ujung. Pendengarannya memang agak menurun, konon karena kegemarannya menenggak obat warungan.

"Bukan calon Yu Parti, Mbok. Tapi calon Bupati!" jawab Sriati dengan suara keras, agar wanita sepuh itu bisa mendengar suaranya.

"Bupati mana? Blambangan?" goda Mbok Darsilah, membuat semua yang ada tertawa ... kecuali Parsiman tentu saja, dia masih berkutat dengan cara mengatur nafas setelah berlari-larian.
...


Kamis, 02 Juli 2020

PENGASUH SETAN NERAKA DI RUMAH TUA (3 )


"Kedatanganmu tepat seribu tahun, dari kekalahan kami melawan pasukan kegelapan. Dan sesuai dengan yang sudah diramalkan oleh pendahulu kami, kamu datang dengan ciri-ciri seperti yang mereka sebutkan." Raja Baldewa membuka pembicaraan, sementara para dayang datang bersamaan menghidangkan makanan dan minuman ke meja besar itu. 

"Ciri-ciri apakah itu, Yang Mulia?" tanyaku tidak mengerti. 

"Nadenta akan menjelaskannya pada kita semua, nanti. Sementara itu, mari menikmati sajian ini." 

Raja Baldewa dan Ratu Prayangan dengan sangat santun mempersilakan kami, membuatku dan juga Kang Imam tertegun keheranan. 

"Mari silakan, saudara Imam Bukhori dan pemimpin perang akbar kita Amira. Jangan khawatir, kami mendatangkan makanan dari arcapada (bumi) khusus untuk kalian." Rupanya sang Ratu melihat kegelisahan dan kebingungan kami, menghadapai hidangan di atas meja. "Perlu kalian ketahui, Nadenta itu sesungguhnya adalah manusia biasa seperti kalian juga."

Aku dan Kang Imam serentak memandangi wajah Ksatria Bumi  itu dengan keheranan, yang dipandang malah tersenyum-senyum dalam anggukan kepala. 

"Di bumi ragaku sudah tua renta, kita sudah sering bertemu sebelumnya di Surabaya." Nadenta membuat satu gerakan dengan tangan kananya di dahi, mungkin untuk memancing daya ingatku tentangnya. 

"Gerakan seperti itu sering dilakukan oleh Mak Bawuk, penjual jamu gendong tua langganan keluarga kami!" jawabku berdebar. 

"Pintar! Akulah Mak Bawuk, Amira. Jamu yang kau minum selama ini sesungguhnua adalah Tirta Kamandanu (air keabadiaan), yang memang kami persiapkan untuk mempertajam daya serta kemampuanmu."

"Tidak kusangka, sejak kecil Mak Bawuk ... eh Nadenta Sang Ksatria Langit sudah menjaga dan melatihku!"

"Karena kamu istimewa, Amira. Kelahiranmu tepat pada hari Sabtu Pahing, memiliki neptu hari dengan jumlah hitungan18. Hari paling istimewa untuk kelahiran Dewi Srikandhi, yang menitis di tubuhmu hingga usiamu mencapai 20 tahun nanti."

"Luar biasa, sesuai benar dengan mimpi-mimpiku selama ini. Tentang Dewi Hapsari dan Begawan Giri Nata yang datang melatihku ilmu kesaktian juga kesehatan, sejak usia tujuh tahun seingatku."

"Kamilah yang kau maksudkan itu, Amira. Sang Hyang Jagad Giri Nata adalah Raja Baldewa, sedangkan Dewi Hapsari adalah penjelmaanku,"  kata Ratu Prayangan menjelaskan. "Kamu masih ingat dengan pusaka yang kami tanamkan di telapak tangan kiri dan kananmu, pada suatu malam? Saat inilah kamu akan dapat mengeluarkannya, sepasang pedang emas bernama Jagad Gumelar."

Tiba-tiba kedua telapak tanganku mengepal erat dan bergetar hebat, aku ingat mereka mengajariku bagaimana mengeluarkan pusaka itu. 

"Jagad Gumelar, keluarlah!" teriakku, diikuti berputar-putarnya cahaya keemasan melingkupi seluruh tubuh. Telapak tanganku terbuka, lalu denan waktu yang sama menutup kembali. 

Aku sangat terkejut, karena tiba-tiba dua bilah pedang panjang bercahaya emas sudah dalam genggaman kedua telapak tanganku. Sama sekali tidak terasa berat, bahkan perasaanku bagai hanya menggenggam kapas. Tetapi angin yang ditimbulkannya sangat luar biasa, kegaduhan kecil segera terjadi di ruangan itu. 

"Sudah cukup, Nduk! Sarungkanlah kembali kedua pedang saktimu itu, sekarang." Dengan arif Mbah Mijan memintaku, untuk memasukkan kembali kedua senjata itu ke dalam tubuh. 

"Sudah menjadi takdirmu, Amira. Dalam perang ini, kamu akan selalu didampingi oleh Ki Mijan Sang Badranaya dan Imam Bukhori." Kudengar Raja Baldewa berkata seperti itu, membuatku menoleh ke arah Mbah Mijan yang tersenyum padaku. Sementara sama denganku, Kang Imam juga tampak masih kebingungan. 

"Imam Bukhori sejatinya titisan Prabu Narayana atau Raja Kresna, tetapi agama serta keyakinan mereka yang berbeda membuat penitisan mereka nyalawadi. Aneh, istimewa, karena Prabu Kresna hanya dapat menyatu dalam raga Imam Bukhori saat-saat genting saja," jelas Raja Baldewa dengan wajah seriusnya. 

"Sedangkan Ki Mijan adalah titisan Kyai Semar Badranaya, sesepuh kami bangsa Dewa, sesepuh Jin Kala, Sesepuh Jin Peri serta bangsa halus lainnya. Bahkan sesungguhnya, Iblis Ajajil sangat menghormatinya. Pada saat tertentu, dia akan berubah menjadi wujud aslinya," Sang Ratu terus saja membuka rahasia-rahasia mengejutkan dua manusia itu. 

"Tunggu dulu!" aku berdiri dari tempat duduk, kulihat semua yang hadir nampak terkejut, "Jadi, apakah sebenarnya aku sedang bermimpi saat ini?"

"Duduklah, Nduk. Kamu tidak sedang bermimpi, ini adalah kenyataan. Cubitlah tubuhmu, kamu akan merasakan sakit karenanya." Mbah Mijan memegang pundakku, mengajak kembali duduk. 

"Tidak, Amira. Kamu tidak sedang bermimpi, di sinilah kamu sekarang, beserta ragamu yang di awal sedang bermeditasi di rumah tua itu," Raja Baldewa memberikan penjelasan. "Apa yang dikatakan Ki Mijan adalah benar, kalian berada di sini dengan jiwa raga kalian sejati."

"Bagaimana dengan nasib kedua orangtuaku, Baginda?" tiba-tiba aku teringat ayah dan ibuku. 

"Mereka baik-baik saja, Amira. Jin Palon dan Iblis Ajajil tidak akan bisa menyakiti mereka, karena kami sudah membungkus jiwa dan raga mereka dengan ilmu kedewataan."



PENGASUH SETAN NERAKA DI RUMAH TUA (2)

Pengasuh Setan Neraka Di Rumah Tua

Sampai ke rumahku suasana gelap sudah mulai terlihat, kami menemukan tubuh kedua orangtuaku tergeletak di ruang tamu. 

"Ayah! Ibu!" aku sudah hampir berlari untuk mendapati tubuh keduanya, ketika lagi-lagi cengkeraman yang kuat Mbah Mijan bersarang di bahuku. 

"Tunggu! Itu bukan mereka, Nduk! Mundurlah di belakang tubuhku, akan kutunjukkan kepadamu!"

Akupun beringsut ke belakang punggung lelaki sepuh itu, melihatnya menggosokkan telapak tangannya. Lalu dengan posisi kuda-kuda pencak silat, dia melontarkan satu energi yang berupa cahaya biru ke sosok yang tergeletak itu. Dan tubuh keduanya pun berubah menjadi gumpalan asap, lalu menghilang di kegelapan. 

"Kemana tubuh orangtuaku, Mbah!" teriakku mengiringi menghilangya asap pekat itu. 

"Mereka bukan orangtuamu, Nduk. Jasad mereka sedang disembunyikan di suatu tempat di rumah ini, tetapi roh mereka ditawan di negara Jin Palon!"

Aku sangat terkejut dengan penjelasan Mbah Mijan, tetapi sebelum aku bertanya lebih lanjut, orang tua itu sudah terlebih dulu berteriak. 

"Nyalakan penerangan!"

Entah kepada siapa perintah ditujukan, karena tiba-tiba lampu gantung di ruangan itu sudah menyala. Juga beberapa lampu tempel di dinding ruangan, semuanya menyala dengan api berkobar-kobar. 

Ketika pandanganku mulai terbiasa dengan cahaya ruangan itu, mulai terlihat satu persatu sosok di sana. Jin Samin berdiri di pojok ruangan, bersama dengan seorang Jin Perempuan yang sangat cantik. Dan dua lagi, tampak berjaga di pintu masuk dan lorong menuju dapur.

"Ruangan ini sudah kupagari dengan Benteng Wojo¹. Jin Palon dan anak buahnya takkan sanggup menembusnya, apalagi Imam Thohari juga melapisinya dengan sebuah amalan." Kata Jin Samin kepada Mbah Mijan. 

"Baguslah, kita akan menyusun rencana dari sini. Silakan, Nak." Orang tua itu mengarahkan pandangannya kepada Imam Thohari, dari gerak-geriknya dia seperti sudah terbiasa berhadaoan dengan situasi seperti ini. 

"Baiklah, Mbah. Langkah pertama, kita akan menembus dimensi mereka dengan semua pasukan yang ada."

'Pasukan? Hanya tiga orang manusia dan 21 jin, mengapa Kang Imam menyebutnya pasukan?' bathinku. 

Ternyata Mbah Mijan mengetahui apa yang sedang kupikirkan, dia menoleh ke arahku. 

"Kamu jangan kawatir, Nduk. Masing-masing jin yang ada di sini bukan sembarangan, semua bisa menggandakan dirinya menjadi ratusan ribu jin dengan penampilan dan krmampuan yang sama dengan aslinya."

"Iya, Mbah. Maafkan, saya hanya belum mengetahuinya saja."

"Lanjutkan, Mam!"

"Iya, Mbah!" santri tampan itu kembali melanjutkan pemaparannya, setelah mengangguk dan tersenyum padaku, "Kita hanya akan meninggalkan beberapa jin di sini, semua yang mumpuni untuk menjaga jasad-jasad kami selama meraga sukma²."

"Bagaimana dengan Amira?" tanya Jin Samin. 

"Dia akan ikut dengan kita menerobos pintu gerbang kerajaan mereka, karena hanya dia yang akan bisa melakukannya," jawab Kang Imam. 

"Benar, hanya gadis perawan suci yang memiliki bakat melihat keberadaan merekalah kuncinya." Mbah Mijan menambahi keterangan sebelumnya, tetapi justru malah membuatku tidak mengerti. 

"Kenapa aku, Mbah? Dan bagaimana caranya bisa membuka pintu gerbang kerajaan mereka!?"

"Tenanglah, Nduk. Petunjuk akan ada di sana, bagaimana caranya kamu akan membukanya."

"Iya, Mbah."

"Lanjutkan, Mam!"

"Sebelum datang kemari : aku sudah berpesan kepada salah seorang santri, untuk mengumpulkan seluruh penduduk desa agar datang ke rumah ini tepat jam 12 malam. Mereka akan membantu kita menyucikan rumah ini, dari cengkeraman jahat Jin Palon dan raja mereka Iblis Ajajil."

"Jika tidak ada pertanyaan lagi, mari segera kita mulai prnyerbuan kita!" seru Mbah Mijan. 

Tidak ada yang melontarkan pertanyaan atau pun berkeberatan, aku pun sudah merasa jelas dengan rencana ini. 

"Duduk bersilalah di sampingku, Nduk. Kosongkan fikiranmu, pasrah kepada Tuhan Yang Mahaesa. Pejamkan kedua belah matamu, berdoalah memohon keselamatan. Ingat! Apapun yang kamu rasakan, apapun yang membuatmu penasaran, diamkan saja. Jangan sekali-kali membuka matamu, sebelum aku memintanya."

"Iya, Mbah." Meskipun rasa takut mulai mengundang degup jantung berdentang-dentang, aku menguyakan perkataan orang tua itu. 

Yang diminta untuk kulakukan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan keseharianku, bermeditasi adalah kebiasaanku setiap hari untuk meredam penampakan mata bathinku. Hanya berbeda sedikit, karena pada saat ini niatku bermeditasi adalah untuk pergi berperang. 

Proses meditasi berjalan lancar, aku mulai merasakan gangguan-gangguan pada panca inderaku. Bebauan yang berubah-ubah, dari harum, sedap, amis, bahkan bau bangkai dan bau-bau menyengat lainnya. Lalu kudengar suara petir yang menggelegar, tetabuhan, derit-derit benda berat yang diseret, jeritan-jeritan, ratapan tangis, suara tawa, silih berganti terdengar di telingaku. 

"Amira! Tolong kami, Nak!"

"Amira!  Tolong kami, Sayang!"

Suara ayah ibuku terdengar jelas, seperti mereka sedang duduk berhadapan denganku. 

"Jangan buka matamu, Amira!" sayup kudengar teriakan dari Mbah Mijan, bersamaan dengan terbukannya kedua kelopak mataku. 

"Dhuar!"

Sebuah ledakan dasyat bagai menghantam tubuh, untuk sesaat aku hanya merasa berputar-putar di angkasa. Kemudian tubuhku bagai terlempar ke tanah kering yang berlendir, hingga saat membuka mata. 

Aku merasa terduduk di atas sesuatu yang keras, tetapi tidak dapat melihatnya karena diliputi kabut tebal. 

"Mbah, Mijan!" teriakku memanggil orangtua itu.

 "Kang Imam!"

"Jin Samin!"

Tidak tampak sesuatu pun, kabut melingkupi apapun yang kulihat di tempat itu. Sebuah dataran asing yang bahkan belum pernah kujumpai selama hidupku, semua serba temaram antara jingga dan hitam. Udara yang tercium pun berganti-ganti, kadang segar, lalu berubah anyir, berganti segar lagi lalu amis, begitu yang kurasakan.

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dari golongan jin di hadapanku. Dari gaya pakaian yang dikenakannya, aku yakin dia bukanlah golongan dari Jin Samin dan teman-temannya.

"Berdirilah! Pegang tanganku, kita akan segera meninggalkan tempat ini!" kata sosok cantik jelita itu, sambil mengulurkan tangannya kepadaku. 

"Kamu siapa? Dan kenapa aku harus ikut bersamamu?" tanyaku kebingungan. 

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya saat ini! Ikutlah denganku, atau kamu lebih ingin ditangkap prajurit Iblis Ajajil?"

Tidak ada yang perlu kudebatkan lagi, karena rasa ykin pada niat baik jin ini. Segera kuraih tangannya, dan bagai kilat dia membawa tubuhku melesat ke angkasa. Menjadi pingsan karenanya. 

*****

Kubuka mata karena tiupan udara hangat menerpa tubuhku, perlahan kucoba mengingat apa yang telah terjadi padaku. Meski belum dapat mengingat semuanya, aku masih bisa mengingat pertemuanku dengan jin cantik jelita itu. 

"Kau sudah siuman, Amira?" terdengar sebuah suara yang cukup lembut yang menyapa, maka kupalingkan wajah ke arahnya. 

"Siapa, Anda?" aku terkejut, karena melihat jin lain yang juga tak kalah cantik jelita di samping tempat tidurku. 

"Tenanglah, Amira. Namaku Magenta, yang menemukanmu di hutan tadi adalah Nadenta. Bagaimana keadaanmu?"

"Sudah agak baik ... eh Nyonya ... Nona ... bagaimana aku memanggil Anda?" terang sekali aku kebingungan memanggilnya, karena penampilannya yang bak puteri raja dalam kisah dongeng mancanegara. 

"Panggil aku Bunda Prayangan, aku dari bangsa peri yang menikah dengan bagsa jin. Seorang permaisuri dari sebuah kerajaan jin dimana saat ini kamu berada, dan suamiku Baginda Baldewa yang menjadi rajanya."

"Luar biasa, sungguh saya sangat bangga bisa berkenalan dengan Anda Bunda Prayangan."

"Itu tidak perlu, Amira. Kamilah yang seharusnya bangga bertemu denganmu, karena kedatanganmu ini sudah diramalkan sejak lama oleh tetua-tetua kami."

"Jadi kedatanganku sudah diramalkan, Bunda?"

"Begitulah adanya anak cantik. Sekarang jika kamu sudah siap, mari kita pergi menghadap Baginda Banaba."

"Aku butuh mandi, setelah petualangan yang melelahkan itu Bun ...." aku tidak melanjutkan kata-kataku lagi, setelah kudapati penampilanku yang sungguh sangat berbeda, "Astaga!"

"Di negeri ini kami tidak membersihkan diri dengan air, Amira. Udara segar membersihkannya, dan semoga kamu suka dengan baju yang kamu kenakan itu. Kami sengaja memilihkan pakaian, sesuai dengan model dan pembawaan baju yang kau kenakan di awal."

Sangat luar biasa pakaian yang mereka pakaikan di tubuhku, terlihat ketat tetapi tidak terasa menekan. Tidak seperti pakaian yang selama ini kukenakan, dari benang-benang. Tetapi ini entah apa bahan yang dibuat, hanya perasaan nyaman saja yang terasa. 

"Terimakasih, Bunda. Pakaian ini begitu pas di tubuhku, perasaan pun nyaman mengenakannya!" seruku riang. 

"Gaya berpakaianmu tidak terlihat aneh di negeri kami, karena itu mirip dengan baju yang dikenakan para ksatria kerajaan."

"Benarkah? Saya terkejut mendengarnya, Bunda."

"Tidak perlu terkejut, karena sepertinya kamu dilahirkan untuk menjadi seorang ksatria juga," kata Bunda Prayangan sambil mendekat ke arahku, ketika sudah mulai berdiri dari tempat tidur. 

Baru kusadari tempatku tidur selama ini ternyata sangat indah, terbuat dari sejenis besi yang berwarna keemasan. Atau mungkin itu memang emas? Seprai berwarna pink dengan hiasan bunga dan burung Phoenix, dengan renda-renda rumit dari benang emas. 

"Amira, jika kamu sudah siap mari kita berangkat." Lamunanku pun buyar,  karena dikejutkan oleh suara lembut wanita cantik itu. 

"Kemana kita akan pergi, Bunda?" seperti tiba-tiba menjadi bego, aku sama sekali tidak bisa mengingat percakapanku sebelumnya. 

Bunda Prayangan tersenyum, menggamit kedua lenganku sambil berkata. 

"Kita akan menghadap Baginda Raja, Sayang."

"Oh yang itu? Baiklah, saya siap Bunda."

*****

Perjalanan dari kamar menuju tempat sang raja sangatlah menyenangkan,  beberapa dayang mengiringi langkah kaki kami dengan nyanyian yang indah. Pintu dari setiap ruangan yang akan kami lewati terbuka sendiri, dan bunga dalam vas di sepanjang perjalanan sungguh luar biasa indahnya. Sebentar kemudian tibalah kami ke sebuah aula yang sangat luas, lantainya terbuat dari batu granit yang halus dan berkilau-kilauan. 

Di sebuah meja yang sangat panjang, telah duduk berderet berhadapan beberapa orang dari bangsa mereka. Semua menunduk hormat kepadaku dan Bunda Ratu, dan betapa sangat terkejut mendapati Mbah Mijan, Jin Samin dan Kang Imam Bukhori ada diantara mereka. 

"Mbah Mijan! Kang Imam! Jin Samin! Kalian juga berada di sini?" seperti bertemu dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun, aku segera berlari ke arah mereka yang duduk di dekat seseorang yang kursinya tidak berhadap-hadapan. 

"Syukurlah kamu selamat, Nduk." Kata Mbah Mijan saat aku menyalaminya, juga Jin Samin dan Kang Imam Bukhori. 

"Apa yang terjadi denganku, Mbah?" tanyaku tidak sabar, seraya menduduki kursi kosong di sebelah Mbah Mijan. 

"Bersabarlah, nanti kamu akan tahu alasannya." Kelembutan kata-kata Mbah Mijan telah sanggup meredakan rasa penasaran di dalam hatiku, entah mengapa berada di sisi lelaki tua itu seakan merasa terlindungi. 

"Amira, sekarang perkenalkan mereka yang hadir di pasamuwan (pertemuan) ini. Mereka adalah golongan Ksatria Putih dari golongan kami, yang akan membantu kalian menghancurkan Ksatria Hitam Jin Palon dan sembahan mereka Iblis Ajajil," kata Bunda Prayangan sambil berdiri di tepi meja dekat Baginda Raja. 

"Yang memaki zirah² berwarna biru bernama Biruna, ksatria langit."

Seseorang yang dimaksud segera berdiri dan membungkukkan badannya, sangat tampan dengan kulit putihnya. Akupun segera mengangguk membalas penghormatannya.

"Yang memakai zirah berwarna kuning bernama Nawala, ksatria angin."

Seperti sebelumnya, dia pun membuat gerakan penghormatan kepadaku. Aku juga membalasnya dengan penuh kebanggaan.

"Yang ketiga adalah Ksatria Bumi, kamu sudah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dialah Nadenta, seperti yang kamu lihat dia tidak berzirah."

Wanita cantik dimaksud pun berdiri, dan aku langsung memberinya hormat terlebih dulu kepadanya. Nadenta pun membalasnya, sambil tersenyum padaku. 

"Yang terakhir adalah Ksatria Api, dilambangkan dengan warna merah di zirahnya. Tetapi maaf, dia tidak suka memperkenalkan diri."

Aku terkejut ketika mengikuti arah jari telunjuk Bunda Prayangan, kuliat seorang jin dengan penampilan yang sangat aneh. Rambutnya panjang dan gondrong berwarna merah menyala, juga wajahnya. Baju zirahnya tidak berwarna merah, tetapi lebih kepada warna karat karena tidak terawat. 

Medki dia tudak bereaksi dengan perkenalan itu, aku tetao membungkukkan badan sebagai salam kenal padanya. 

"Karena kamu sudah mengenal tiga orang ini, maka segera kuperkenalkan saja Baginda Raja Baldewa," kata terakhir Bunda Prayangan, sebelum duduk kembali ke kursinya. 

"Selamat datang di negeri kami, Amira dan para pengawal."

Meskipun terkejut dengan kata-katanya, aku tetap berdiri dan memberi penghormatan kepada baginda. Siapakah pengawal yang beliau maksud? Dan pertanyaan itu terjawab kontan, ketika Mbah Mijan, Jin Samin dan Imam Bukhiri berdiri menyertaiku memberikan penghormatan. 






PENGASUH SETAN NERAKA DI RUMAH TUA (1)


Namaku Amira Puspandari, umurku 17 tahun, aku seorang indigo. Seseorang yang memiliki kepekaan supranatural, orang bilang sebagai pemilik keahlian cenayang¹. Aku bisa melihat mahluk halus, roh, dari jenis jin atau arwah.


Sebelumnya aku tinggal di Kota Surabaya, tetapi karena kondisi Ayah yang terserang penyakit paru-paru ... dokter menyarankannya untuk lebih banyak menghirup udara segar pegununungan. Akhirnya, Ayah menjual rumah kami. Membayar semua utang-utang, dan memutuskan berhenti bekerja di sebuah perusahaan makanan ringan. Kami pindah ke pedesaan, di kaki gunung Arjuno, Pasuruan.


Ayah membeli rumah ini dengan harga yang sangat murah, tidak sampai seperempat harga dari rumah dengan ukuran yang sama. Bukan karena Ayahku pandai menawar, tetapi karena rumah itu memang sudah lama tidak didiami.Dari mulut pekerja yang membantu memasukkan barang pindahan, dia bercerita tentang keangkerannya.


Pemilik pertama rumah itu, adalah keluarga yang difitnah sebagai antek PKI (partai terlarang). Orang memanggilnya Ndoro² Bugeng, pemilik perkebunan teh yang cukup terpandang dan kaya raya. Seorang mandor bawahannya bersumpah, pernah melihat bendera PKI terpasang di kamar tuannya. Sesungguhnya hanya muslihat sang mandor, karena ingin menguasai harta kekayaan tuannya. Mendompleng kekisruhan politik kala itu.


Akhirnya, sang tuan dibunuh dengan sangat kejam oleh para algojo dari pasukan hitam. Kepala Ndoro Bugeng, kepala istrinya, dan kepala kedua anak perempuannya mereka penggal, kemudian ditancapkan di pagar bambu, yang konon dulu pernah ada di depan rumah itu. Penduduk sekitar akhirnya mengubur keempat jasad ke dalam satu lubang, di pekarangan belakang rumah mereka sendiri.


Setelah huru-hara politik mereda, perkebunan teh pun dijual sang Mandor kepada seorang tuan tanah. Dan rumah beserta isinya, dijual kepada seorang Tionghwa bernama Babah³ Oong, seorang pedagang barang kelontong di pasar kecamatan.


Keanehan demi keanehan pun dimulai semenjak rumah itu ditempati kembali, satu persatu penghuni rumah meninggal secara tidak wajar dengan sungguh sangat mengerikan. 


Pertama, anak gadis Babah Oong yang bernama Meimei ditemukan meninggal tergantung berlumuran darah, di dahan sebuah pohon nangka yang sangat besar. Tidak lama kemudian disusul dengan meninggalnya Meiling adiknya, tubuhnya juga ditemukan meninggal tergantung di dahan pohon sawo yang besar. Disekujur tubuh keduanya ditemukan banyak luka rajam, luka sayatan bahkan ususnya terburai.


Istri Babah Oong yang biasa disapa Tacik oleh penduduk sekitar, akhirnya menjadi gila, setelah tragedi beruntun yang menimpa keluarganya itu. Setiap tengah malam dia selalu berteriak histeris, suara teriakannya terdengar berat dan serak. Seperti suara manusia yang sedang digorok lehernya, serta selalu meneriakkan sebuah nama dengan kemurkaannya.


"Mandooor! Mandooor! Mandoooor!"


Kejadian-kejadian yang sungguh mengerikan di rumah itu, membuat tetangga di sekitarnya menjadi ketakutan. Satu persatu mereka membongkar rumah, kemudian pindah ke tempat yang sekarang menjadi sebuah desa baru. Rumah tua itu ditinggalkan berdiri sendiri, hanya bertetanggakan padang ilalang yang melingkupinya seperti sekarang ini. 


Untunglah, seorang yang baik hati bernama Mbah Mijan sudi merawat rumah itu. Membersihkan seisi rumah dan pekarangan sekitarnya, dari rumput ilalang dan tumbuhan menjalar lainnya. Sehingga walaupun puluhan tahun tidak ditempati, kondisi rumah itu selalu tampak bersih. Walaupun memang kesan angker dan sangar, tetap kental terlihat juga terasa di rumah itu.


Setelah kematian kedua putrinya, babah Oong menikahi seorang wanita bisu, adik kandung Mbah Mijan muda. Maksudnya agar ada yang merawat dan mengawasi Tacik, ketika Babah Oong berjualan di pasar.

Tetapi nasip malang tidak dapat dihindari, wanita itupun tewas dengan sangat mengenaskan di tangan istri tua suaminya. Tacik yang sudah menjadi gila membunuhnya, dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Menenggelamkan kepala wanita muda itu ke dalam air mendidih, yang sedianya akan dipakai memandikan wanita gila tersebut.

Rambut panjang serta kulit wajah istri muda Babah Oong sampai terkelupas dari batok kepalanya, sehingga menampakkan kedua matanya yang melotot dan kerangka mulutnya yang menganga. 


Mendapati kejadian yang sangat mengerikan itu, Babah Oong tidak bisa berfikir jernih lagi. Diambilnya sebuah kapak pembelah kayu bakar, dihantamkannya benda itu ke kepala Tacik. Kepala wanita itupun hancur berantakan, darah juga serpihan-serpihan otaknya berceceran di dinding serta lantai dapur. Setelah itu, dia pun mengakhiri hidupnya dengan menenggak sebotol cairan racun tikus.


Mayat mereka baru dikuburkan seminggu kemudian, karena tidak ada yang mengetahui kejadiannya. Mereka baru menyadari, setelah aroma busuk dari mayat-mayat itu menyebar terbawa angin menuju arah desa. Maka berbondong-bondonglah segenap warga desa mendatangi rumah itu, kemudian segera menguburkannya tanpa upacara keagamaan. 

Berpuluh tahun rumah itu tidak lagi ada yang berani menghuninya, tidak seorang pun berani menempatinya. Bahkan berada terlalu dekat dengan rumah itu, sudah menjadi kengerian tersendiri bagi siapapun. Hingga Ayahku dengan gagah berani datang membelinya. 

*****


"Ami!" terdengar suara Ayah memanggilku dari dalam rumah, saat aku sedang berada di depan rumah mengamati alam sekitarnya. Dengan setengah berlari, aku masuk ke dalam rumah itu untuk pertama kalinya. Karena selama proses pemindahan barang dari truk ke dalam rumah, aku dilarang keras orangtuaku untuk membantunya. 


Kulihat ayahku sedang duduk di sebuah kursi kuno di ruang tamu, wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Ayah memang sudah terlihat tua diusia 60 tahunnya, tampak sudah sangat terbatas gerak tubuh dan tenaganya. Mungkin ayah terlalu penat, mengatur barang pindahan di kondisinya yang sakit-sakitan itu.


"Ayah memanggilku?" tanyaku, sesampai di dekatnya.


"Pergilah ke warung di desa sana, belikan ayah obat sakit kepala. Sebelumnya, pergilah kepada ibumu ... jika dia juga ingin menitip barang belanjaan," jawab Ayah sambil menuding ke arah dapur, dimana terdengar suara ibuku sedang mengatur peralatan dapur. Aku mengangguk, lalu berjalan menuju ke arah dapur.

Ketika melintasi kamar di samping ruang tamu, dengan sengaja aku melongok ke dalamnya. Hampir saja aku jatuh terpelanting karena terkejut, terlihat bayangan sesosok gadis bergaun kuning gading sedang menyisir rambutnya. Dari bayangan kaca yang menghadap ke pintu kamar, aku dapat melihat gadis itu sedang menatapku dengan senyum yang terlihat sangat kesakitan.


Samar-samar aku memperhatikan ada tanda merah melingkari lehernya, terlihat seperti bekas tebasan benda yang sangat tajam. Aku membalas senyumnya, ketika tiba-tiba bayangan itu menghilang. Langkah kakiku yang bermaksud menghampirinya terhenti seketika, karena kudengar suara ibuku.


"Kamu lagi ngapain bengong disini, Ami!" teguran Ibu yang tidak kusadari sudah berada di sampingku, membuatku lebih terkejut dari rasa kagetku melihat penampakan si gadis bergaun kuning gading tadi.


"Eh, Ibu. Ayah menyuruhku menanyakan pada Ibu, kalau-kalau ingin membeli sesuatu barang. Karena aku disuruh Ayah, membeli obat sakit kepala di warung, Bu." jawabku, sambil masih tetap celingukan ke dalam kamar.


"Baiklah, belikan sekilo gula, sekilo beras, sabun mandi, pasta gigi, dan samphoo. Itu saja." Kata Ibu lembut, dan langsung balik kembali pada kesibukannya di dapur.


Ketika pamit pada Ayah, kulihat wajahnya semakin memucat. Dia tidak menjawab salamku, mungkin tertidur karena kelelahan. Setelah menutup pintu depan, aku segera berjalan menuju jalan setapak ke arah desa.


Di sini  tiba-tiba aku bisa merasakan hawa aneh yang melingkupi rumah itu, seakan kabut hitam yang sangat pekat sedang membelenggunya. Baru kusadari juga, sama sekali tidak ada tumbuhan apapun di sekitar pekarangan rumah. Hanya padang ilalang yang sangat luas, hingga batas rumpun-rumpun bambu di pinggiran desa. 


*****


Ditengah perjalanan aku bertemu dengan Mbah Mijan, orang yang selama ini merawat rumah tua yang kami tempati sekarang itu. Dia tampak sedang menggembalakan kambing-kambingnya, tersenyum ke arahku dan bertanya.


"Kamu hendak kemana, Nduk⁴. Hari menjelang sore begini?"


Aku segera menghampirinya, menjabat serta mencium tangan kanannya. Pada saat itulah aku baru menyadari kehadiran sesosok mahluk dari bangsa Jin, yang sedang duduk bersila di atas sebuah batu besar disamping jalan setapak. Jin berjubah biru itu membuat gerakan memberi hormat padaku, aku mengangguk seraya membalas salamnya dengan anggukan kepala.


"Ayah menyuruhku membeli obat sakit kepala, dan ibu memintaku membelikan beberapa barang, Mbah" jawabku sambil tak lepas memandangi aktifitas jin yang tubuhnya seukuran manusia itu, di atas sebuah batu besar.


Rupanya, Mbah Mijan mengerti dengan apa yang sedang kulakukan.


"Kamu sedang memperhatikan siapa, Nduk? Kulihat, pandanganmu tidak lepas dari batu besar itu. Apa kamu bisa melihatnya juga?" aku terkejut dengan pertanyaan lelaki, yang kira-kira sudah berumur 80 tahunan itu. Bisa melihat juga? Itu artinya Mbah Mijan juga bisa melihat yang aku lihat?


"Maaf, Mbah?"


"Iya, Nduk. Yang kamu lihat di atas batu besar itu, dia adalah Jin Samin. Dia jin muslim yang menguasai seluruh kawasan ini, kecuali sekitaran rumahmu yang dikuasai oleh Jin Palon, salah satu perwujudan dari Iblis Ajajil." Jawab Mbah Mijan, yang juga membuat gerakan memberi hormat ke arah batu besar itu sebelum akhirnya Jin Samin menghilang.


"Kenapa begitu, Mbah?" tanyaku kemudian, kulihat dia membuat isyarat dengan tangannya sekali lagi. Seperti sudah memahami isyaratnya, kambing-kambing itu langsung berlarian menuju jalan desa. Lalu orang tua itu mengajakku beranjak, sementara itu kegelisahan mulai melingkupi langkahku disampingnya.

"Rumahmu itu dan lingkungan sekitarnya adalah wilayah kekuasaan Jin Palon dari golongan Iblis, sementara wilayah desa, sawah dan ladang dikuasai oleh Jin Samin. Keduanya mewakili sifat yang berbeda, Jin Samin adalah seorang jin muslim."

Tiba-tiba lelaki itu mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, lalu berkata dengan pelan di dekat telingaku. 


"Bersikaplah biasa saja, Nduk. Kamu sedang diikuti, tetapi jangan sekali-kali menoleh ke belakang."

Mbah Mijan berkata seperti itu, membuatku memahami apa yang dimaksudkannya. Aku juga mulai merasakan kehadiran makhluk-makhluk astral di sekitarku, sementara matahari mulai mendekati senja. 


Sampai di sebuah pos penjagaan di pinggiran desa, orangtua itu mengajakku berhenti berjalan. Duduk di balai bambu yang ada di sana, ketika satu keajaiban terlihat olehku. Mbah Mijan memerintahkan kambing-kambingnya untuk pulang dulu ke rumah, dan dengan riang mereka mematuhi perkataannya. 


"Duduklah di sini saja, sementara aku akan pergi membeli barang kebutuhanmu di toko. Ingat, dengan alasan apapun 'jangan meninggalkan' pos ini sejengkal pun!"


"Iya, Mbah."


Ketika lelaki tua itu sudah tidak tampak lagi punggungnya, aku mendengar sayup-sayup suara azan dikumandangkan. Dimensi telah benar-benar berubah saat itu, karena mata bathinku sudah mulai bisa merasakan suara-suara aneh dan beberapa kali penampakan yang berkelebat. 


Dari jalan menuju rumah, samar-samar kulihat seseorang sedang berjalan tergesa menuju ke arahku. Semakin mendekat, sehingga akhirnya dapat kukenali. Cahaya temaram senja menghalangi pandanganku, untuk segera daoat memastikan kehadirannya. 


'Ibu? Apa yang dilakukanya, dengan meninggalkan Ayah seorang diri di rumah?' pikirku, setelah meyakini apa yang tampak dalam penglihatanku. Kapan dia mandi dan berhias, hingga tampak seperti hendak pergi ke kondangan seperti itu?


"Ami kemarilah, Nak!" tiba-tiba Ibu memanggilku dari tempatnya berhenti melangkah. Tidak ada penghalang apapun, tetapi mengapa dia berhenti begitu jauh?


Aku hanya memandangi bayangan yang menyerupai orangtuaku itu, tanpa berniat untuk menghampirinya. Pesan dari Mbah Mijan agar aku tudak meninggalkan tempat itu, terngiang-ngiang di telingaku. 


"Ami, ini ibu Nak!" suaranya mulai berubah, aku tidak menggubrisnya. 


Tiba-tiba sebuah ledakan dari gumpalan asap hitam terjadi, dan bayangan tubuh ibuku pun lenyap bersama asap. Bersamaan dengan itulah kurasakan dua telapak tangan memegangi pundakku dengan kuat, membuatku memberontak dengan sekuat tenaga. 


"Lepaskan! Lepaskan!" teriakku sekencang-kencangnya. 


"Ami! Ini aku, Mbah Mijan!" terdengar suara serak orangtua yang baru kukenal seharian ini. Kupalingkan muka untuk melihatnya, dan apa yang terlihat disamping tubuhnya sungguh sangat mengejutkan. 


"Si ... siapa ini, Mbah?" tanyaku dengan suara terputus, setelah kulihat seorang pemuda tampan yang berdiri di sampingnya. 


"Kenalkan, ini adalah Ahmad Thohari yang akan membantu kita." Jawab Mbah Mijan pasti, sambil membuat isyarat kepada pemuda bersongkok itu untuk berbicara. 


Pemuda berkulit putih itu memberikan salam dengan suaranya sungguh sangat merdu, lembut tetapi penuh dengan kekuatan, yang membuatku terbengong lupa menjawab salamnya. 


"Eh, iya. Namaku Amira Puspandari, panggil saja Ami."


Kekikukan sesaat itupun segera berakhir, karena tiba-tiba kabut hitam bergulung-gulung itu datang lagi. 


"Mbah!" pekikku kebingungan, ketika merasa gerakan kabut itu seakan hendak menerpaku. 


"Tenang saja, Nduk. Kekuatannya tidak akan berlaku di luar batas wilayah kekuasaannya, ini daerah kekuasaan Jin Samin."


Kulihat ke arah Ahmad Thohari, dia seperti sedang khusyuk membaca doa sambil memutarkan tasbih di jemarinya. Perlahan kabut itupun menghilang lagi. 


"Siapa yang mengirimkan kabut ini, Mbah?" tanyaku. 


"Itu terlihat seperti kabut dalam penglihatanmu, padahal inilah salah satu penampakan dari Jin Palon yang menguasai rumahmu. Kita harus bergegas ke sana, sebelum kejadian buruk menimpa kedua orangtuamu." Mbah Mijan membuat isyarat kepadaku dan Ahmad, untuk segera bergegas mengikuti kabut hitam itu pergi.

Dalam perjalanan pulang itulah baru kusadari, ternyata ada Jin Samin dan beberapa lainnya di belakang langkah kami. Sepertinya mereka sudah siap memulai pertempuran besar, karena perlengkapan perang dan senjata yang mereka bawa. 


"Ini waktu yang tepat untuk menyucikan rumahmu, Nduk. Persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap, semoga kita belum terlambat!"


"Apa maksudnya, Mbah?" tanyaku kebingungan, diantara ketergesaan langkah kaki kami. 

"Syarat utama gadis pemilik hak baru atas rumah itu sekarang sudah ada, yaitu dirimu. Pemilik-pemilik sebelumnya yang memiliki anak gadis, selalu mereka bunuh untuk memutus jalan penyucian."

"Memutus jalan?"

"Iya, Nduk. Hanya kamu yang akan bisa membawa kami menuju istana mereka, kemampuan kami terbatas untuk melakukan itu sendiri."

Aku terdiam saat melihat Jin Samin sedang memagari rombongan kami, dengan energi api biru yang berkobar-kobar. 

"Tingkatkan kewaspadaan, kita sudah mendekati wilayah kekuasaan mereka!" seru Mbah Mijan kepada semua, "Jin Samin, bawalah beberapa lagi untuk membentengi rumah Ami!"

Tidak ada jawaban, selain tiba-tiba melesatlah lima cahaya biru dari barisan kami. Dan itulah tanda pertempuran awal sudah dimulai, karena aku melihat berpuluh-puluh lesatan cahaya kuning mengejarnya. 


(bersambung) 


Agenda:

¹ Dukun peramal

² Tuan

³ Bapak dalam bahasa mandarin

⁴ Panggilan kepada anak perempuan (bahasa Jawa: Gendhuk)